Blog Nafis

Cinta Nabi untuk Disabilitas

Diposting oleh mnafisalmukhdi1 pada 05 Januari 2026

Pesan

Kisah 1

Rasulullah, Nabi Muhammad ﷺ sedang sibuk berdakwah kepada para pembesar Quraisy yang musyrik saat itu. Mereka adalah Utbah, Syaibah, Abu Jahl, dan Walid bin Mughirah. Tentunya beliau mengajak agar mereka beriman dan memeluk agama Islam. Nabi sungguh mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk agar menyucikan hati mereka.

Di tengah pembicaraan, tiba-tiba datang seorang yang buta. Abdullah bin Ummi Maktum namanya, anak paman Khadijah. Dia termasuk Assabiqun al-Awwalun, orang-orang yang pertama dalam memeluk Islam. “Wahai Rasulullah, beri aku petunjuk,” dia meminta dengan mendesak.

Kedatangannya tanpa ragu langsung bertanya tentang wahyu yang diterima oleh nabi. Dia menyela pembicaraan yang sedang berlangsung untuk meminta Nabi membacakan dan menjelaskan tentang wahyu tersebut.

Dia yang buta tidak mengetahui bahwa Nabi sedang memberi arahan pembesar kaum musyrik yang menyebabkan Rasul menolaknya, namun di sisi lain menerima dan memberi petunjuk kepada yang lain. Nabi saat itu sangat ingin dia diam dan tidak mengganggunya, agar beliau dapat berbicara dengan orang-orang itu karena besarnya keinginan nabi bahwa mereka akan memperoleh petunjuk.

Nampaklah rona Rasulullah berubah menjadi masam, wajah beliau mengkerut dan berpaling dari Abdullah bin Ummi Maktum.

Abdullah bin Ummi Maktum lantas berkata, “Apakah menurutmu, apa yang aku katakan tadi sebuah kejelekan?”

“Tidak,” jawab Nabi. Turunlah wahyu dari Allah.

عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ ۝١ اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ ۝٢ وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ ۝٣ اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ ۝٤ اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ ۝٥ فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ ۝٦ وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ ۝٧ وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ ۝٨ وَهُوَ يَخْشٰىۙ ۝٩ فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ ۝١٠ كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌۚ ۝١١ فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗۘ ۝١٢ فِيْ صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍۙ ۝١٣ مَّرْفُوْعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ ۢۙ ۝١٤ بِاَيْدِيْ سَفَرَةٍۙ ۝١٥ كِرَامٍ ۢ بَرَرَةٍۗ ۝١٦

(1) Dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan berpaling, (2) karena seorang tunanetra telah datang kepadanya. (3) Tahukah engkau, boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), (4) atau dia ingin mendapatkan pengajaran sehingga pengajaran itu bermanfaat baginya? (5) Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, (6) engkau memberi perhatian kepadanya. (7) Padahal, tidak ada cela atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman). (8) Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera, (9) sedangkan dia takut (kepada Allah), (10) malah engkau abaikan. (11) Sekali-kali jangan begitu! Sesungguhnya (ajaran Allah) itu merupakan peringatan. (12) Siapa yang menghendaki tentulah akan memperhatikannya, (13) di dalam suhuf yang dimuliakan, (14) yang ditinggikan (kedudukannya) lagi disucikan, (15) di tangan para utusan (malaikat), (16) yang mulia lagi berbudi. (Q.S. Abasa[80]:1–16)

Demikian teguran dari Allah kepada rasul-Nya. Maka, begitulah seorang rasul yang ditugaskan untuk mengingatkan manusia. Tugasnya jelas: menyampaikan pelajaran, memberi nasihat, dan memperingatkan agar orang tidak tersesat.

Ketika ada orang datang dengan hati penuh kebutuhan, mencari jawaban dan berharap mendapat bimbingan, maka orang seperti itu lebih pantas untuk disambut dan diberi perhatian. Sebaliknya, jika ada orang kaya yang merasa cukup, tidak mau bertanya, dan tidak peduli pada kebaikan, maka berpaling kepada mereka sambil meninggalkan yang sungguh-sungguh ingin belajar adalah sikap yang tidak tepat.

Sebab, tugas sang nabi hanyalah menyampaikan. Jika ada yang mau membersihkan diri dan mengambil pelajaran, itu baik. Namun bila ada yang menolak, maka kesalahan itu bukan tanggung jawab sang guru. Ia tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan buruk orang lain.

Nabi sendiri setelah ayat ini turun selalu menghormati ‘Abdullah bin Ummi Maktum dan sering memuliakannya melalui sabda beliau, “Selamat datang kepada orang yang menyebabkan aku ditegur oleh Allah. Apakah engkau mempunyai keperluan?”

Kisah 2

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ امْرَأَةً كَانَ فِي عَقْلِهَا شَيْءٌ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي إِلَيْكَ حَاجَةً، فَقَالَ: «يَا أُمَّ فُلَانٍ انْظُرِي أَيَّ السِّكَكِ شِئْتِ، حَتَّى أَقْضِيَ لَكِ حَاجَتَكِ» فَخَلَا مَعَهَا فِي بَعْضِ الطُّرُقِ، حَتَّى فَرَغَتْ مِنْ حَاجَتِهَا.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang wanita yang kurang sempurna akalnya. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki suatu keperluan denganmu.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai Ummu Fulan, lihatlah jalan mana yang engkau sukai, hingga aku penuhi kebutuhanmu.” Lalu beliau menyendiri bersamanya di salah satu jalan, sampai wanita itu selesai menyampaikan keperluannya. (Muslim dalam Shahih Muslim no. 2326, Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud no. 4818, Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad no. 12197, Abu Ya‘la dalam Musnad Abu Ya‘la no. 3472)

Bayangkan suasana di Madinah. Nabi Muhammad ﷺ, seorang pemimpin sekaligus guru umat, selalu hadir di tengah masyarakat. Beliau tidak pernah menutup diri, bahkan orang kecil, budak, atau mereka yang memiliki keterbatasan bisa datang langsung menyampaikan keperluan.

Suatu hari, seorang wanita yang akalnya kurang sempurna datang kepada beliau. Dengan penuh harap ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku punya keperluan denganmu.” Nabi ﷺ tidak menolak, tidak meremehkan, dan tidak merasa terganggu. Beliau justru menjawab dengan lembut: “Wahai Ummu Fulan, pilihlah jalan mana yang engkau suka, aku akan pergi bersamamu hingga aku penuhi kebutuhanmu.”

Maka beliau berjalan bersamanya di salah satu jalan kota, mendengarkan dengan sabar, menjawab dengan penuh perhatian, hingga wanita itu selesai menyampaikan semua yang ada di hatinya. Orang-orang melihat mereka berjalan, namun tidak mendengar percakapan itu.

Tampak jelas betapa Nabi ﷺ rendah hati, sabar, dan penuh kasih. Beliau tidak membedakan siapa yang datang.

Kisah 3

قَالَ أَبُو بَرْزَةَ كَانَ جُلَيْبِيبٌ امْرَأً يَدْخُلُ عَلَى النِّسَاءِ يَمُرُّ بِهِنَّ وَيُلَاعِبُهُنَّ، فَقُلْتُ لِامْرَأَتِي: لَا يَدْخُلَنَّ الْيَوْمَ عَلَيْكُنَّ جُلَيْبِيبًا؛ فَإِنَّهُ إِنْ دَخَلَ عَلَيْكُنَّ لَأَفْعَلَنَّ وَلَأَفْعَلَنَّ. قَالَتْ: وَكَانَتِ الْأَنْصَارُ إِذَا كَانَ لِأَحَدِهِمْ أَيِّمٌ لَمْ يُزَوِّجْهَا حَتَّى يَعْلَمَ هَلْ لِلنَّبِيِّ فِيهَا حَاجَةٌ أَمْ لَا، فَقَالَ النَّبِيُّ لِرَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ: «زَوِّجْنِي ابْنَتَكَ». قَالَ: نَعَمْ وَكَرَامَةً يَا رَسُولَ اللَّهِ وَنِعْمَةَ عَيْنٍ. فَقَالَ: «إِنِّي لَسْتُ أُرِيدُهَا لِنَفْسِي». قَالَ: فَلِمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «لِجُلَيْبِيبٍ». فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أُشَاوِرُ أُمَّهَا. فَأَتَى أُمَّهَا فَقَالَ: رَسُولُ اللَّهِ يَخْطُبُ ابْنَتَكَ. فَقَالَتْ: نَعَمْ وَنِعْمَةَ عَيْنٍ. فَقَالَ: إِنَّهُ لَيْسَ يَخْطُبُهَا لِنَفْسِهِ، إِنَّمَا يَخْطُبُهَا لِجُلَيْبِيبٍ. فَقَالَتْ: أَجُلَيْبِيبٌ إِنَيْهِ أَجُلَيْبِيبٌ إِنَيْهِ؟ (تَعَجُّبٌ وَاسْتِنْكَارٌ)، أَلَا لَعَمْرُ اللَّهِ لَا نُزَوِّجُهُ.

فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ لِيَأْتِيَ الرَّسُولَ مُحَمَّدًا فَيُخْبِرَهُ بِمَا قَالَتْ أُمُّهَا، قَالَتِ الْجَارِيَةُ: مَنْ خَطَبَنِي إِلَيْكُمْ؟ فَأَخْبَرَتْهَا أُمُّهَا، قَالَتْ: أَتَرُدُّونَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ أَمْرَهُ؟ ادْفَعُونِي إِلَيْهِ؛ فَإِنَّهُ لَنْ يُضَيِّعَنِي. فَانْطَلَقَ أَبُوهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ فَقَالَ: شَأْنُكَ بِهَا، فَزَوَّجَهَا جُلَيْبِيبًا.

فَدَعَا لَهَا الرَّسُولُ مُحَمَّدٌ: «اللَّهُمَّ اصْبُبْ عَلَيْهَا الْخَيْرَ صَبًّا، وَلَا تَجْعَلْ عَيْشَهَا كَدًّا». ثُمَّ قُتِلَ عَنْهَا جُلَيْبِيبٌ، فَلَمْ يَكُنْ فِي الْأَنْصَارِ أَيِّمٌ أَنْفَقَ مِنْهَا. (ابن كثير (1999)، ج. 6، ص. 423. البغوي (1983)، ج. 14، ص. 196.)

Di Madinah, ada seorang sahabat bernama Julaibib. Ia dikenal dipandang sebagian orang dengan sebelah mata. Beliau memang bukanlah penyandang disabilitas dalam arti medis atau fisik cacat permanen. Namun, beliau adalah sahabat Nabi ﷺ yang dikenal memiliki banyak kekurangan secara lahiriah—buruk rupa, tubuh pendek dan bungkuk, berkulit gelap, miskin, serta tidak jelas nasab atau asal-usul keluarganya.

Suatu hari, Rasulullah ﷺ berkata kepada seorang lelaki Anshar, “Nikahkan aku dengan putrimu.”

Lelaki itu menjawab penuh hormat, “Tentu, ya Rasulullah, dengan segala kemuliaan.” Namun Nabi ﷺ menambahkan: “Aku tidak memintanya untuk diriku, melainkan untuk Julaibib.”

Lelaki itu pun berkata: “Aku akan bertanya kepada ibunya.” Maka ia pulang dan menyampaikan lamaran itu. Sang ibu awalnya terkejut: “Julaibib? Julaibib? Demi Allah, tidak mungkin kita menikahkannya!”

Namun, putrinya yang mendengar percakapan itu berkata dengan penuh iman: “Apakah kalian akan menolak perintah Rasulullah? Serahkan aku kepadanya, beliau tidak akan menelantarkanku.”

Akhirnya sang ayah kembali kepada Nabi ﷺ dan berkata: “Uruslah urusanmu dengannya.” Maka Rasulullah ﷺ menikahkan putri itu dengan Julaibib. Setelah akad, Nabi ﷺ mendoakan, “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan kepadanya dengan limpahan yang banyak, dan jangan jadikan hidupnya penuh kesusahan.”

Doa itu benar-benar terwujud. Putri Anshar itu dikenal sebagai wanita yang paling banyak mendapat keberkahan di antara kaumnya.

حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ عُمَرَ بْنِ سَلِيطٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ كِنَانَةَ بْنِ نُعَيْمٍ عَنْ أَبِي بَرْزَةَ أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ فِي مَغْزًى لَهُ فَأَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْهِ فَقَالَ لِأَصْحَابِهِ: (هَلْ تَفْقِدُونَ مِنْ أَحَدٍ) قَالُوا: نَعَمْ فُلَانًا وَفُلَانًا وَفُلَانًا، ثُمَّ قَالَ:(هَلْ تَفْقِدُونَ مِنْ أَحَدٍ) قَالُوا: نَعَمْ فُلَانًا وَفُلَانًا وَفُلَانًا، ثُمَّ قَالَ: (هَلْ تَفْقِدُونَ مِنْ أَحَدٍ)، قَالُوا: لَا، قَالَ: (لَكِنِّي أَفْقِدُ جُلَيْبِيبًا فَاطْلُبُوهُ)، فَطُلِبَ فِي الْقَتْلَى فَوَجَدُوهُ إِلَى جَنْبِ سَبْعَةٍ قَدْ قَتَلَهُمْ ثُمَّ قَتَلُوهُ، فَأَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَوَقَفَ عَلَيْهِ، فَقَالَ النبي ﷺ : (قَتَلَ سَبْعَةً ثُمَّ قَتَلُوهُ هَذَا مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ هَذَا مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ)، قَالَ فَوَضَعَهُ عَلَى سَاعِدَيْهِ لَيْسَ لَهُ إِلَّا سَاعِدَا النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: فَحُفِرَ لَهُ وَوُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَلَمْ يَذْكُرْ غَسْلًا. (مسلم (1374)، ج. 4، ص. 1918.)

Tak lama setelah pernikahan, Julaibib ikut berperang bersama Rasulullah ﷺ. Seusai pertempuran, Nabi bertanya kepada para sahabat: “Apakah kalian kehilangan seseorang?”

Mereka menyebut beberapa nama. Nabi bertanya lagi, hingga akhirnya beliau berkata:

“Aku kehilangan Julaibib. Carilah dia.”

Mereka menemukannya gugur di medan perang, di samping tujuh orang musyrik yang telah ia bunuh sebelum akhirnya ia sendiri syahid. Rasulullah ﷺ berdiri di sisinya dan bersabda: “Ia telah membunuh tujuh orang, lalu mereka membunuhnya. Julaibib ini bagian dariku, dan aku bagian darinya.”

Nabi ﷺ sendiri yang mengangkat jasad Julaibib dengan kedua lengannya, lalu memakamkannya.

Kisah Julaibib mengingatkan kita bahwa ukuran kemuliaan bukanlah rupa, harta, atau kedudukan, melainkan iman dan ketaatan kepada Allah. Putri Anshar menjadi teladan karena lebih memilih ridha Allah dan Rasul-Nya daripada pandangan manusia. Doa Nabi ﷺ untuk rumah tangga mereka menunjukkan bahwa keberkahan hidup sejati lahir dari ketaatan. Dan kesyahidan Julaibib menjadi bukti nyata bahwa sosok yang dianggap kecil oleh manusia bisa memiliki kedudukan besar di sisi Allah.