Mereka berkata, “Mengeluh itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang imannya lemah dan ada doa sendiri untuk minta dijauhkan darinya.”
QS. Al-Ma’arij[70]:19-36
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan penakut, dan dari lilitan hutang dan penindasan.” (HR. Bukhari:5005 & 5886)
Tapi “keluhan” sendiri tercatat dan dilontarkan oleh orang yang jelas keimanannya.
- QS. Maryam[19]:1-6, 23
- QS. al-Mujadilah[58]:1
Kenapa tidak boleh mengeluh? Apakah mereka berpatokan:
شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ فِي الرَّمْضَاءِ فَلَمْ يُشْكِنَا
“Kami berkeluh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam perihal shalat diatas kerikil yang sangat panas, namun beliau tidak menggubris keluh kesah kami.” (HR. Muslim:981)
padahal dalam redaksi lain, terdapat pelengkap
قَالَ زُهَيْرٌ قُلْتُ لِأَبِي إِسْحَقَ أَفِي الظُّهْرِ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ أَفِي تَعْجِيلِهَا قَالَ نَعَمْ
Zuhair mengatakan; Lalu kukatakan kepada Abu Ishaq; “Apakah yang dimaksud ketika shalat zhuhur?” Dia menjawab; “Benar.” Aku berkata lagi; “Itu maksudnya supaya menyegerakannya?” Jawab Abu Ishaq; “Benar.” (HR. Muslim:982)
فَقَالَ تَصَدَّقْنَ فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ فَقَامَتْ امْرَأَةٌ مِنْ سِطَةِ النِّسَاءِ سَفْعَاءُ الْخَدَّيْنِ فَقَالَتْ لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ
Beliau bersabda, “Bersedekahlah kalian, karena kebanyakan kalian akan menjadi bahan bakar neraka jahannam.” Maka berdirilah seorang wanita terbaik di antara mereka dengan wajah pucat seraya bertanya, “Kenapa ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kalian lebih banyak mengadu (mengeluh) dan mengingkari kelebihan dan kebaikan suami.” (HR. Muslim:1467)
padahal maksud hadits tersebut mensyukuri segala jenis nikmat termasuk kebaikan yang telah didapatkan yang diwujudkan dengan membagikan harta kepada yang berhak.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِابْنٍ لَهَا فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَشْتَكِي وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْهِ قَدْ دَفَنْتُ ثَلَاثَةً قَالَ لَقَدْ احْتَظَرْتِ بِحِظَارٍ شَدِيدٍ مِنْ النَّارِ
Dari Abu Hurairah dia berkata; “Seorang wanita datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa anaknya yang sedang sakit dan mengeluh seraya berkata; ‘Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku khawatir terhadapnya, dan sungguh aku telah mempersembahkan (mengubur) tiga anak’. maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh engkau telah terhalang dengan tabir yang kuat dari api neraka’.” (HR. Muslim:4771)
padahal tindakan mengubur anak dikarenakan kekhawatiran itulah yang menyebabkan terhalang oleh api neraka
عَنْ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ قَالَ شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ فَقُلْنَا أَلَا تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلَا تَدْعُو لَنَا فَقَالَ قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهَا فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ نِصْفَيْنِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ وَعَظْمِهِ فَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَاللَّهِ لَيَتِمَّنَّ هَذَا الْأَمْرُ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ
Dari Khabbab bin Al Arat mengatakan, kami pernah mengeluhkan penderitaan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang ketika itu beliau beralaskan kain panjangnya di naungan ka’bah. Maka kami mengadu; ‘Tidakkah engkau meminta pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa untuk kami? ‘ Maka beliau bersabda; “Sungguh sebelum kalian ada orang yang diringkus kemudian digalikan lubang baginya dan ia ditimbun disana, lantas didatangkan gergaji dan diletakkan di kepalanya, sehingga kepalanya terbelah menjadi dua, dan ada yang disisir dengan sisir besi sehingga memisahkan tulang dan dagingnya namun semua siksaan itu tidak memalingkannya dari agamanya, demi Allah, perkara ini akan sempurna sehingga seorang pengendara bisa berjalan dari Shan’a hingga Hadramaut, dan ia tidak khawatir selain kepada Allah dan serigala yang akan menerkam kambingnya, namun kalian ini orang yang suka tergesa-gesa.” (HR. Bukhari:6430)
sedangkan maksudnya agar mempercayai segalanya kepada Allah sehingga dapat bersabar.
Lah terus bagaimana? Solusinya:
- Mengamalkan QS. Al-Ma’arij[70]:22-34
- Memahami QS. Maryam[19]:3, 24-26
- Mengamalkan QS. Yusuf[12]:86
- Memahami a. HR. Bukhari:964 (Hadits Shalat Istisqa) b. HR. Bukhari:3276 فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ ابْنَ أُخْتِي شَاكٍ فَادْعُ اللَّهَ لَهُ قَالَ فَدَعَا لِي Bibiku berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya anak laki-laki dari saudara perempuanku ini mengeluhkan sesuatu kepadaku maka tolonglah mohon do’a kepada Allah untuknya”. as-Sa’ib berkata; “Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan kebaikan bagiku.”
- Mengamalkan a. HR. Bukhari: 2881 & 3429 (membaca Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahu Akbar 34x sebelum tidur) عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا ذَكَرَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ يُخْدَعُ فِي الْبُيُوعِ فَقَالَ إِذَا بَايَعْتَ فَقُلْ لَا خِلَابَةَ Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma; ada seorang laki-laki mengeluh kesahkan dirinya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena dirinya sering ditipu dalam jual beli, maka beliau bersabda: “Jika kamu jual-beli, katakan; ‘Namun dengan syarat tak ada penipuan’.” (HR. Bukhari:6449) b. HR. Bukhari:6500 (mengeluhkan sakit yang mengarah kepada kematian, agar saudara sesama muslim dapat merawat dan mengurus setelahnya) c. HR. Bukhari:6870 (nasihat Nabi kepada Zaid bin Haritsah untuk bertakwa kepada Allah setelah mengeluh)
- Memahami a. HR. Muslim:1099, 1100, 5328 (berbuat baik sebagai bentuk syukur sehingga merasa puas dengan apa yang sudah diberikan oleh Allah) b. HR. Muslim:1202 (keringanan shalat, jika tidak dapat berdiri maka duduk, dan seterusnya) c. HR. Muslim: 3871 (laki-laki boleh menggunakan sutera jika terkena penyakit gatal)
[Abdullah bin Umar] ia berkata; Sa’ad bin Ubadah pernah mengeluhkan rasa sakit yang dideritanya, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud menjenguknya. Ketika beliau hendak masuk ternyata ia sedang dikerumuni keluarganya, maka beliau pun bertanya: “Apakah ia telah meninggal dunia?” Para sahabat menjawab, “Belum wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meneteskan air mata. Melihat beliau menangis, para sahabat pun ikut menangis. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dengarkanlah oleh kalian, sesungguhnya Allah tidak mengazab seseorang karena disebabkan tangisan atau perasaan sedih (dari orang yang ditinggalkannya) akan tetapi Dia mengadzab karena disebabkan oleh ini (beliau memberi isyarat pada lisannya), atau Dia akan mengasihinya.” (HR. Muslim:1532)
Bersedih dan menangislah, seraya engkau tetap menjaga lisanmu. Mengeluhlah pada Allah kemudian pada orang tepat yang kamu pikir akan memberikan solusi terbaik atas apa yang kamu alami, dan jangan lupa bicarakan dengan baik.