Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bagaimana kabar kalian? Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk berkunjung ke tulisanku yang satu ini.
Perkenalkan, namaku M. Nafis Al-Mukhdi. Seorang laki-laki yang lahir pada hari Senin, 8 April 2002, bertepatan dengan 25 al-Muharram 1423 Hijriah. Sekarang, aku tinggal di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan.
Terlahir dengan pemberian nama Nafis, mengawali cita-cita keluarga termasuk diri sendiri untuk menjadi orang yang berharga. Berharap mengambil berkah dari sang ulama tersohor di tanah Banjar, aku berkembang di lingkungan Islam.
Selama ini, aku menemui bentuk kekaguman dari orang lain. Mereka berharap agar memiliki orang yang mereka kagumi, dan bersama dengan mereka selama sisa hidup di dunia bahkan jika bisa sampai ke setelahnya. Bagiku, kekaguman yang kupunya membentuk sebuah keinginan agar diriku bisa seperti mereka.
Nama yang menjadi harapan dan bersumber dari ulama, ditambah dengan mengenyam bangku sekolah untuk waktu lama, memberikan rasa kagum dan ketertarikan untuk mereka yang memberikanku pendidikan.
“Apa cita-citamu?”
“Aku ingin menjadi guru,” jawabku.
Pada awalnya, aku tidak tahu bagaimana jalan hidup yang sedang berlangsung akan membawaku ke sana. Ditambah dengan munculnya berbagai harapan lain yang membuatku lupa dengan cita-cita di awal.
Ketertarikanku di bidang teknologi sempat membuatku berpikir untuk meninggalkan jalur yang terarah sebelumnya. Aku ingin mendalami dunia teknologi, dan baru-baru ini, aku mengetahui bahwa Front-End Developer namanya.
Nyatanya, Allah lebih mengetahui bagaimana keadaan makhluk-Nya. Ketika aku memasuki perkuliahan dan masih berlangsung sampai saat ini, aku disadarkan bahwa sedang menjalani apa yang diinginkan pada awalnya.
Alhamdulillah. Sekarang aku berada di Sekolah Tinggi Agama Islam Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai, pada Program Studi Pendidikan Agama Islam. Program studi yang lulusannya diarahkan menjadi calon guru, dengan pengetahuan agama Islam sebagai dasarnya.
Memang, menjadi seorang pengajar dan pendidik bukanlah hal yang mudah. Apalagi dengan kenyataan di lapangan sekarang, bisa saja memberikan keraguan kepada orang-orang yang turut menjalani arah ini. Idealisme harus realistis, berbagai inovasi yang akan dibuat seakan perlu disesuaikan terhadap yang sebenarnya terjadi.
Maka karenanya, sedari kecil orang tua mendukung untuk mewujudkan mimpi ini. Menjadikan diriku selalu mengenyam pendidikan, maka tahap demi tahap terbentuk menuju keadaan yang terbaik.
Dalam dunia pendidikan, aku dikembangkan oleh guru-guru. Aku masih ingat dulu, bagaimana aku diminta untuk membacakan ayat suci Al-Qur’an, atau mengikuti lomba da’i cilik yang diadakan secara internal. Semua tindakan itu agar aku berani tampil di hadapan orang-orang dan dapat menyampaikan isi pikiran.
Apa yang sebenarnya aku harapkan terbilang sederhana. Sebagaimana sabda dari manusia tercinta, Muhammad, semoga rahmat Allah tercurah kepadanya. “Sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat kepada manusia lainnya.” Pada intinya, aku hanya ingin memberi manfaat, bagaimanapun caranya.
Begitu pula, ketertarikanku di dunia teknologi sebagaimana disebutkan sebelumnya tidak dapat dilupakan. Aku harus bersyukur atasnya, meski jalan yang sedang kutiti berbeda dengannya. Aku pun menjadikan menulis sebagai sebuah hobi, padahal hanya ingin menyampaikan pemikiran agar tidak menetap di kepala.
Aku ingin terus mengasah kemampuanku di dunia kepenulisan, meskipun karya yang berhasil kuciptakan belum mengarah kepada tujuan utama. Ia tetap menjadi cita-cita. Mengenalkan keesaan Tuhan agar diterima siapa saja, sehingga permata yang indah itu dapat disentuh oleh mereka. Memaparkan isi Al-Qur’an menjadi sebuah cerita yang membuat pembacanya dimanja.
Aku juga kontributor pada proyek Wikimedia Indonesia, dan bagian dari Komunitas Wikimedia Banjar. Sebut saja, Wikipedia Indonesia dan Wikipedia Banjar, aku berusaha mencurahkan pengetahuan yang aku punya dan membagikannya agar siapapun bebas mengaksesnya. Terlebih lagi, Wikikamus Banjar, aku terlibat dalam perilisan situs tersebut dan senang menjadi bagian darinya. Pernahkah engkau membayangkan, sebuah kata dalam bahasa Banjar, dijelaskan kembali dalam bahasa Banjar agar mudah dipahami? Aku bangga menjadi bagian mereka.
Tidak kusangka, aku turut serta dalam melestarikan bahasa dan budaya. Kaum muda sepertiku, mereka terus menggaungkan agar tidak melupakan jati diri mereka. Agar bahasa dan budaya tidak hilang terkikis zaman, orang-orang sepertiku yang harus mempertahankannya.
Aku tidak malu ketika berusaha mempertahankan bahasa dan budaya. Aku malu ketika orang lain yang sama sekali tidak kukenal lebih mengetahui budaya tempat aku berada di bidang sendiri.
Semuanya bermula dari sebuah nama. Aku berharap engkau turut tahu apa arti milikmu yang sesungguhnya. Mungkin dari sana, engkau akan menemui jalan hidupmu, sebagaimana aku menjalaninya.
Hulu Sungai Utara, 16 September 2023.
M. Nafis Al-Mukhdi