“Ingin menulis novel, tetapi bingung mau mulai dari mana? Lembar kerja jadi salah satu solusinya!”
Bulan September ini diadakan Festival Tunas Bahasa Ibu. Seperti namanya, benih-benih berbakat dalam dunia literasi akan tumbuh dan muncul. Alangkah baik jika hal ini kemudian dikembangkan untuk bulan depan, Oktober, Bulan Bahasa dan Sastra.
Bulan Oktober juga dimanfaatkan untuk meningkatkan kecintaan terhadap bahasa. Namun, bulan tersebut ditujukan untuk warga Indonesia. Di luar negeri, kegiatan literasi memuncak pada bulan setelahnya lagi, yakni bulan November.
National Novel Writing Month, atau yang biasa disingkat NaNoWriMo, adalah sebuah organisasi nirlaba berbasis di Amerika Serikat yang menciptakan event tahunan untuk menulis naskah novel sebanyak 50.000 kata di bulan November. Sayang, Maret 2025 lalu organisasi ini harus berhenti karena kesulitan dana, komunitas yang mulai kurang kondusif, dan maraknya Akal Imitasi dalam tulisan yang beredar.
Dalam rangka membantu para penulis menyiapkan karyanya, Nanowrimo bahkan membuatkan beberapa modul yang mereka namai sebagai “Workbook” untuk memudahkan pembuatan novel. Saya sempat memperoleh konten tersebut, mengingat dibagikan secara gratis dengan lisensi CC BY-NC-SA sehingga tujuan tulisan ini adalah memberikan ringkasan secukupnya dari isi modul tersebut.
Saya rasa, “Lembar Kerja” menjadi padanan yang mencukupi untuk kata “Workbook” tersebut dan terdengar lebih familiar di telinga dunia kependidikan. Untuk sekelas cerpen, lembar kerja tersebut mungkin lebih sederhana. Tinggal membuat tabel berisikan poin-poin unsur intrinsik dan struktur utama cerpen dengan kolom kosong untuk diisi.
Novel, tentunya lebih besar dari cerpen, bahkan dengan Nanowrimo yang menghajatkan 50.000 kata sebagai batas minimal dari karya akhir, setelah melalui revisi dan sebagainya. Struktur lembar kerja tersebut dibagi menjadi empat bagian.
Bagian 1: Perencanaan
Setelah niat, ide menjadi titik awal untuk pembuatan karya tulis. Sebelum memunculkan ide, Nanowrimo mengajak untuk membaca terlebih dahulu dan memilih novel untuk dijadikan sebagai model. Tujuan dari tahapan awal ini adalah mengenali unsur intrinsik novel tersebut dahulu dan menentukan bagian favorit dari novel tersebut.
Sebagai bagian dari memilih novel tertentu, mungkin akan menemukan yang disukai dan yang kurang disukai. Nanowrimo juga mengajak untuk membuat daftar kedua novel-novel tersebut berisikan judul, nama penulis, dan hal yang disukai/kurang suka.
Baru beranjak untuk memunculkan ide. Ide, bagi Nanowrimo bermula dari tempat dan hal yang membuat tertarik, semangat, terinspirasi, dan penasaran. Misalnya: mimpi, perjalanan, acara TV, kucing, dan lain sebagainya. Dari hal-hal tersebut, Nanowrimo meminta untuk memilih sembilan hal yang akan dipecah menjadi tiga ide novel. Boleh diacak seperti arisan–menulisnya di kertas kosong, digulung, dimasukkan ke dalam wadah, dan diambil.
Karakter atau tokoh adalah tahapan selanjutnya. Nanowrimo membagi menjadi tiga golongan: protagonis, pendukung, dan antagonis. Untuk karakter penting, alangkah baiknya menjelaskannya bermodalkan angket seperti biodata diri atau bahkan tes MBTI untuk mengetahui informasi penting seperti nama, usia, postur tubuh, tempat tinggal sampai hal favorit dan yang tidak disukai.
Mulai membuat konflik. Untuk cerita. Ada internal dan eksternal. Nantinya ini akan berubah menjadi rumus premis sederhana. [Protagonis] + [ingin mencapai tujuan tertentu] + [tetapi harus menghadapi tantangan] + [yang bisa saja diinisiasi antagonis].
Setelahnya adalah merancang alur. Ada rumus lagi yang kebanyakan dipakai dalam novel-novel. Awal mula - memulai masalah - masalah memanas - puncak - mereda - penyelesaian.
Latar dijelajah melibatkan perasaan karakter dan pembaca. Tata cara penulisan dialog agak panjang. Namun, tips dari Nanowrimo adalah membayangkannya seperti komik dahulu, baru merangkai narasi, dialog, dan dialog tag.
Kesimpulannya: Niat - ide - karakter - konflik - alur - latar - dialog. Hal ini dapat disederhanakan menjadi tabel dua kolom untuk pengisian pribadi.
Bagian 2: Memulai
Setiap orang memiliki kecepatan menulisnya masing-masing, sehingga tujuan atau batas minimal jumlah kata dalam penulisan tidak bisa menjadi patokan tetap. Cara untuk mengambil ambang tersebut adalah dengan menulis selama dua puluh menit dengan kecepatan normal dan menghitung jumlah kata yang didapat. Kalikan dengan durasi penulisan, 30 hari misalnya. Demikianlah target penulisan yang bisa ditetapkan.
Dalam rangka memotivasi diri sendiri, ada dua cara yang diciptakan Nanowrimo. Pertama, menulis kontrak pribadi yang isinya jumlah kata tersebut sebagai target dan pernyataan siap mencoba lagi jika gagal mencapainya. Kedua, dengan menulis progres pencapaian jumlah kata disertai pengingat harian.
Bagian 3: Menulis
Memulai tulisan memang bisa dari awal, biasanya menjelaskan alur dan karakter utama. Orientasi namanya. Namun, bisa juga dari mulainya masalah. Rangkaian peristiwa, atau bahkan di tengah-tengah lagi. Atau malah, memulai dari bagian akhir, tidak masalah.
Dari sana, pengembangan dimulai dengan melibatkan panca indera ke dalam tulisan untuk tempat dan suasana. Kemudian memecah alur dengan memfokuskan kepada karakter pendukung dan antagonis. Untuk menjaga agar tetap konsisten, daftar hal-hal yang penting dapat dibuat untuk memudahkan mengingat, seperti kebiasaan karakter tertentu.
Bagian 4: Terus Apa?
Konsep sudah selesai, revisi menjadi tahapan selanjutnya. Pertama, posisikan diri sebagai pembaca yang melingkari hal-hal favorit dan menanyakan banyak hal bahkan menandai hal-hal janggal.
Kedua, baru posisikan sebagai editor. Apakah ceritanya nyambung? Apakah ada karakter yang menarik? Apakah konflik cukup kuat untuk membuat pembaca semangat membalik halaman?
Terakhir, bersih-bersih. Jadikan PUEBI / EyD sebagai standar. Penulisan kalimat terutama kapitalisasi dan dialog, penghematan kata dengan menjadikan koma sebagai penghubung antarkalimat, dan lain sebagainya.
Keempat langkah ini sebenarnya berasal dari modul “National Novel Writing Month’s Young Novelist Workbook” yang berisikan 102 halaman dan di antara isinya adalah benar-benar lembar kerja untuk diisi. Meski, Nanowrimo sudah “bubar”, tetapi manfaat yang diberikan untuk penulis masih terasa.