Blog Nafis

Pohon dalam Al-Qur'an

Diposting oleh mnafisalmukhdi1 pada 25 November 2025

Pesan

Resensi Buku “Tafsir Ilmi: Tumbuhan dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sains”

Identitas

Judul Buku: Tumbuhan dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sains Penulis: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Penerbit: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Tanggal Rilis: 2011 Halaman: 239

Sinopsis

Al-Qur’an sebagai kitab suci, selain memiliki fungsi sebagai petunjuk bagi seisi alam semesta, juga menyiratkan rahasia di balik penciptaan alam semesta itu sendiri. Salah satu dari isi Al-Qur’an adalah ayat-ayat yang terkait dengan ilmu pengetahuan dan dapat diuji kebenarannya secara ilmiah. Cara untuk memahami ayat-ayat tersebut adalah melalui tafsir, yang sebenarnya sudah dimulai di zaman Khalifah al-Makmun pada Dinasti Abbasiyah. Penafsiran yang dimaksud adalah tafsir ilmi, yang mana bermakna upaya untuk memahami Al-Qur’an yang terdapat makna ilmiah di dalamnya dari sudut pandang ilmu pengetahuan di zaman sekarang. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, bekerja sama dengan LIPI, LAPAN, Observatorium Bosscha, dan beberapa perguruan tinggi membuat tafsir yang berfokus tentang ayat-ayat terkait dengan tumbuhan dalam Al-Qur’an.

Analisis

Pembahasan tentang pohon termasuk di dalam Bab II, “Proses dan Perikehidupan pada Tumbuhan”. Tepatnya di sub-bab Perikehidupan Tumbuhan dan sub-judul “Pohon Secara Umum” yang dimulai pada halaman 161.

Pengarang juga menyebutkan ayat-ayat berikut:

  1. Pohon hijau yang memberikan api (Q.S. Yasin[36]:80)
  2. Pohon yang menjadi perumpamaan antara yang beriman dan yang kafir (Q.S. Ibrahim[14]:26)
  3. Pohon untuk dimanfaatkan (Q.S. an-Nahl[16]:10)
  4. Pohon sebagai rumah lebah (Q.S. an-Nahl[16]:68)

Berikut pembahasan yang terkait pohon di dalam Al-Qur’an berdasar buku tersebut.

Pohon Terlarang untuk Adam

Ada tiga ayat yang membahas tentang pohon yang Allah larang kepada Nabi Adam untuk mendekatinya. Para mufassir sebenarnya berbeda pendapat tentang pohon apa yang dimaksud. Namun, penamaan “Syajarah al-Khuld” (pohon keabadian) adalah pemberian dari syaitan sebagaimana termaktub dalam Q.S. Thaha[20]:120. Hal itu bagian dari tipu daya syaitan kepada Nabi Adam dengan pernyataan bahwa memakan buah dari pohon tersebut akan memberikan keabadian.

وَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَاۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۝٣٥

Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, dan janganlah kamu dekati pohon ini, sehingga kamu termasuk orang-orang zalim!” (Q.S. Al-Baqarah[2]:35)

وَيٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۝١٩ فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطٰنُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وٗرِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْءٰتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهٰىكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هٰذِهِ الشَّجَرَةِ ِالَّآ اَنْ تَكُوْنَا مَلَكَيْنِ اَوْ تَكُوْنَا مِنَ الْخٰلِدِيْنَ ۝٢٠ وَقَاسَمَهُمَآ اِنِّيْ لَكُمَا لَمِنَ النّٰصِحِيْنَۙ ۝٢١ فَدَلّٰىهُمَا بِغُرُورٍۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْاٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفٰنِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَّرَقِ الْجَنَّةِۗ وَنَادٰىهُمَا رَبُّهُمَآ اَلَمْ اَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَاَقُلْ لَّكُمَآ اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ۝٢٢

(Allah berfirman,) “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di surga (ini). Lalu, makanlah apa saja yang kamu berdua sukai dan janganlah kamu berdua mendekati pohon yang satu ini sehingga kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.” Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepada keduanya yang berakibat tampak pada keduanya sesuatu yang tertutup dari aurat keduanya. Ia (setan) berkata, “Tuhanmu tidak melarang kamu berdua untuk mendekati pohon ini, kecuali (karena Dia tidak senang) kamu berdua menjadi malaikat atau kamu berdua termasuk orang-orang yang kekal (dalam surga).” Ia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya aku ini bagi kamu berdua benar-benar termasuk para pemberi nasihat.” Ia (setan) menjerumuskan keduanya dengan tipu daya. Maka, ketika keduanya telah mencicipi (buah) pohon itu, tampaklah pada keduanya auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (di) surga. Tuhan mereka menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Q.S. al-A’raf[7]:19-21)

فَوَسْوَسَ اِلَيْهِ الشَّيْطٰنُ قَالَ يٰٓاٰدَمُ هَلْ اَدُلُّكَ عَلٰى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلٰى ۝١٢٠

Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya. Ia berkata, “Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi (keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (Q.S. Thaha[20]:120)

Pohon yang Terbakar Saat Pengukuhan Musa sebagai Nabi

Setelah Musa menuntaskan perjanjian dengan Syu’aib, ia berangkat bersama keluarganya menuju Gurun Sinai, membawa kambing-kambing yang diberikan oleh mertuanya. Pada suatu malam yang gelap dan dingin, mereka tiba di sebuah tempat. Untuk menghangatkan diri, Musa mencoba menyalakan api, namun berkali-kali usahanya gagal sehingga ia merasa heran. Tiba-tiba, dari kejauhan tampak cahaya api. Musa pun mendekatinya, dan di sanalah ia mendengar suara Allah. Pada saat itu, Musa diangkat dan diteguhkan sebagai rasul Allah. Kisah ini tercantum dalam beberapa ayat Al-Qur’an.

فَلَمَّا قَضٰى مُوْسَى الْاَجَلَ وَسَارَ بِاَهْلِهٖٓ اٰنَسَ مِنْ جَانِبِ الطُّوْرِ نَارًاۗ قَالَ لِاَهْلِهِ امْكُثُوْٓا اِنِّيْٓ اٰنَسْتُ نَارًا لَّعَلِّيْٓ اٰتِيْكُمْ مِّنْهَا بِخَبَرٍ اَوْ جَذْوَةٍ مِّنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُوْنَ ۝٢٩ فَلَمَّآ اَتٰىهَا نُوْدِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِ الْاَيْمَنِ فِى الْبُقْعَةِ الْمُبٰرَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ اَنْ يّٰمُوْسٰٓى اِنِّيْٓ اَنَا اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَۙ ۝٣٠

Maka, ketika Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan itu dan berangkat dengan istrinya, dia melihat api di lereng gunung. Dia berkata kepada keluarganya, “Tunggulah (di sini). Sesungguhnya aku melihat api. Mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sepercik api agar kamu dapat menghangatkan badan (dekat api).” Maka, ketika dia (Musa) mendatangi (api) itu, dia dipanggil dari pinggir lembah di sebelah kanan (Musa) dari (arah) pohon di sebidang tanah yang diberkahi. “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam. (Q.S. al-Qashash[28]:29-30)

اِذْ رَاٰ نَارًا فَقَالَ لِاَهْلِهِ امْكُثُوْٓا اِنِّيْٓ اٰنَسْتُ نَارًا لَّعَلِّيْٓ اٰتِيْكُمْ مِّنْهَا بِقَبَسٍ اَوْ اَجِدُ عَلَى النَّارِ هُدًى ۝١٠

(Ingatlah) ketika dia (Musa) melihat api, lalu berkata kepada keluarganya, “Tinggallah (di sini)! Sesungguhnya aku melihat api. Mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit nyala api kepadamu atau mendapat petunjuk di tempat api itu.” (Q.S. Thaha[20]:10)

Pohon Bai‘atur Ridwān

Pada bulan Zulkaidah tahun ke-6 Hijriyah, Nabi Muhammad bersama para sahabat berangkat menuju Mekah dengan tujuan melaksanakan umrah sekaligus bertemu kembali dengan keluarga yang telah lama ditinggalkan. Ketika rombongan tiba di Hudaibiyah, Nabi berhenti dan mengutus ‘Utsmān bin ‘Affān untuk menyampaikan maksud kedatangan kaum muslimin kepada para pemuka Quraisy. Namun, ‘Utsmān tidak segera kembali karena ditahan oleh kaum musyrik.

Di tengah penantian itu, beredar kabar bahwa ‘Utsmān telah dibunuh. Mendengar berita tersebut, Nabi meminta para sahabat untuk menyatakan baiat (janji setia) kepadanya. Mereka pun berikrar untuk berjuang bersama Rasulullah melawan Quraisy hingga titik darah penghabisan. Baiat ini kemudian mendapat ridha Allah, sebagaimana tercatat dalam Surah al-Fatĥ ayat 18, sehingga dikenal dengan sebutan Bai‘atur Ridwān.

Peristiwa ini membuat kaum musyrik gentar. Akhirnya mereka melepaskan ‘Utsmān dan mengutus wakil untuk mengadakan perjanjian damai dengan kaum muslimin. Perjanjian tersebut kemudian masyhur dengan nama Șulĥ al-Hudaibiyah.

لَقَدْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَاَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَيْهِمْ وَاَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيْبًاۙ ۝١٨

Sungguh, Allah benar-benar telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad) di bawah sebuah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menganugerahkan ketenangan kepada mereka dan memberi balasan berupa kemenangan yang dekat (Q.S. al-Fath[49]:18)

Allah menegaskan bahwa Dia meridai baiat yang dilakukan para sahabat kepada Nabi Muhammad saw pada peristiwa Bai‘atur-Riḍwān. Jumlah sahabat yang ikut serta sekitar 1.400 orang, kecuali Jadd bin Qais al-Anṣari yang dikenal sebagai munafik. Mereka berjanji setia kepada Rasulullah, bahkan jika harus mengorbankan nyawa. Dalam riwayat al-Bukhārī dari Salamah bin al-Akwa‘ disebutkan bahwa baiat itu dilakukan dengan tekad “untuk mati.”

Allah menjanjikan surga bagi mereka yang berbaiat, sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Tidak seorang pun dari orang-orang yang berbaiat di bawah pohon itu akan masuk neraka.” Karena itu, baiat ini memiliki kedudukan istimewa.

Pohon tempat baiat diyakini sebagai jenis Acacia seyal, pohon berduri setinggi 6–10 meter yang banyak tumbuh di Jazirah Arab dan Afrika. Pohon ini menghasilkan gum arabic yang bermanfaat sebagai obat tradisional, sementara kayu dan kulitnya digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk pengobatan penyakit.

Ketika kemudian para sahabat sering mendatangi pohon itu untuk mengenang peristiwa Bai‘atur-Riḍwān, Umar bin al-Khaṭṭāb memerintahkan agar pohon ditebang. Tujuannya agar tidak dijadikan tempat keramat yang bisa menjerumuskan pada syirik.

Allah juga menanamkan ketenangan dan kesabaran dalam hati kaum muslimin yang berbaiat, serta menjanjikan kemenangan yang dekat, yaitu kemenangan pada Perang Khaibar, yang benar-benar terjadi setelah peristiwa tersebut.

Pohon yang Tumbuh di Surga

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ طُوْبٰى لَهُمْ وَحُسْنُ مَاٰبٍ ۝٢٩

Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. (Q.S. ar-Ra’d[13]:29)

Menurut salah satu penafsiran, Ţūbā yang dimaksud adalah pohon yang tinggi dan rindang yang tumbuh di surga.

Salah satu pohon lain yang disebutkan tumbuh di surga adalah sidr atau sidrah, yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai bidara. Pohon ini digambarkan sangat besar, dengan akar yang berada di langit keenam dan cabang-cabangnya menjulang hingga langit ketujuh. Banyak ulama berpendapat bahwa sidr merupakan pohon yang menandai batas pengetahuan manusia, menjadi pemisah antara dunia ini dengan alam lain.

Dalam tradisi, pohon sidr sering dikaitkan dengan pohon Cedar (Cedrus) dalam bahasa Latin. Salah satu jenis cedar yang terkenal adalah Cedrus libani, pohon yang indah, langka, dan dilindungi, yang tumbuh di hutan-hutan Lebanon.

Pohon sidr ini juga disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai bagian dari gambaran surga.

وَاَصۡحٰبُ الۡيَمِيۡنِ  ۙ مَاۤ اَصۡحٰبُ الۡيَمِيۡنِؕ‏ ٢٧ فِىۡ سِدۡرٍ مَّخۡضُوۡدٍۙ‏ ٢٨ وَّطَلۡحٍ مَّنۡضُوۡدٍۙ‏ ٢٩ وَّظِلٍّ مَّمۡدُوۡدٍۙ‏ ٣٠ وَّ مَآءٍ مَّسۡكُوۡبٍۙ‏ ٣١ وَّفَاكِهَةٍ كَثِيۡرَةٍۙ‏ ٣٢ لَّا مَقۡطُوۡعَةٍ وَّلَا مَمۡنُوۡعَةٍۙ‏ ٣٣

Dan golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu. (Mereka) berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang mengalir terus-menerus, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang mengambilnya, (Al-Waqiah[56]:27-33)

Dalam sebuah riwayat yang dianggap sebagai hadis, disebutkan bahwa Sidr al-Muntahā adalah pohon besar dengan banyak ranting dan cabang. Daunnya digambarkan menyerupai telinga gajah, sementara buahnya mirip guci air dari Hajr.

Adapun ayat-ayat Al-Qur’an menjelaskan bahwa Sidrah al-Muntahā berada di tempat yang sangat tinggi, tepat di atas langit ketujuh. Pohon ini dikunjungi oleh Nabi Muhammad ﷺ ketika beliau menjalani peristiwa mikraj.

وَهُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰى ؕ‏ ٧ ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰىۙ‏ ٨ فَكَانَ قَابَ قَوۡسَيۡنِ اَوۡ اَدۡنٰىۚ‏ ٩ فَاَوۡحٰۤى الٰى عَبۡدِهٖ مَاۤ اَوۡحٰىؕ‏ ١٠ مَا كَذَبَ الۡفُؤَادُ مَا رَاٰى‏ ١١ اَفَتُمٰرُوۡنَهٗ عَلٰى مَا يَرٰى‏ ١٢ وَلَقَدۡ رَاٰهُ نَزۡلَةً اُخۡرٰىۙ‏ ١٣ عِنۡدَ سِدۡرَةِ الۡمُنۡتَهٰى‏ ١٤ عِنۡدَهَا جَنَّةُ الۡمَاۡوٰىؕ‏ ١٥ اِذۡ يَغۡشَى السِّدۡرَةَ مَا يَغۡشٰىۙ‏ ١٦ مَا زَاغَ الۡبَصَرُ وَمَا طَغٰى‏ ١٧ لَقَدۡ رَاٰى مِنۡ اٰيٰتِ رَبِّهِ الۡكُبۡرٰى‏ ١٨

Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat (pada Muhammad), lalu bertambah dekat, sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu disampaikannya wahyu kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah diwahyukan Allah. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekkah) hendak membantahnya tentang apa yang dilihatnya itu? Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratilmuntahā, di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratilmuntahā diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar. (Q.S. an-Najm[53]:17)

Pohon yang Tumbuh di Neraka

Zaqqūm adalah pohon yang tumbuh di dasar neraka Saqar (Jahanam). Pohon ini digambarkan memiliki cabang-cabang yang menjulang hingga ke lapisan neraka di atasnya. Karena berada di dalam neraka, pohon tersebut menyala panas dan mendidih seperti air mendidih. Buahnya menjadi santapan bagi para penghuni neraka. Dalam sebuah riwayat disebutkan, jika pohon ini diturunkan ke dunia, maka bumi beserta isinya akan binasa.

Rasa buah zaqqūm digambarkan lebih buruk daripada cairan tembaga yang meleleh. Buah itu membakar wajah dan organ dalam orang-orang yang memakannya. Para penghuni neraka yang selalu diliputi rasa lapar akan berbondong-bondong menuju dasar neraka untuk mencari makanan, dan di sanalah mereka dipaksa memakan buah zaqqūm. Panasnya buah ini begitu dahsyat hingga bibir mereka terbakar dan gigi terlihat, bahkan sebelum buah menyentuh mulut. Ketika ditelan, duri-durinya merobek kerongkongan, lalu membakar perut hingga mengeluarkan isinya.

Setelah memakan buah itu, mereka akan minum air mendidih seperti unta yang kehausan, namun rasa haus mereka tidak akan pernah hilang. Beberapa ayat Al-Qur’an menyebut pohon ini secara jelas dengan nama zaqqūm, atau dengan istilah lain seperti “pohon yang terkutuk.”

وَاِذۡ قُلۡنَا لَـكَ اِنَّ رَبَّكَ اَحَاطَ بِالنَّاسِ ؕ وَمَا جَعَلۡنَا الرُّءۡيَا الَّتِىۡۤ اَرَيۡنٰكَ اِلَّا فِتۡنَةً لِّلنَّاسِ وَ الشَّجَرَةَ الۡمَلۡعُوۡنَةَ فِى الۡقُرۡاٰنِ ؕ وَنُخَوِّفُهُمۡۙ فَمَا يَزِيۡدُهُمۡ اِلَّا طُغۡيَانًا كَبِيۡرًا‏ ٦٠

Dan (ingatlah) ketika Kami wahyukan kepadamu, “Sungguh, (ilmu) Tuhanmu meliputi seluruh manusia.” Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon yang terkutuk (zaqqum) dalam Al-Qur’an. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka. (Q.S. al-Isra[17]:60)

أَذَٰلِكَ خَيْرٌۭ نُّزُلًا أَمْ شَجَرَةُ ٱلزَّقُّومِ ٦٢ إِنَّا جَعَلْنَـٰهَا فِتْنَةًۭ لِّلظَّـٰلِمِينَ ٦٣ إِنَّهَا شَجَرَةٌۭ تَخْرُجُ فِىٓ أَصْلِ ٱلْجَحِيمِ ٦٤ طَلْعُهَا كَأَنَّهُۥ رُءُوسُ ٱلشَّيَـٰطِينِ ٦٥ فَإِنَّهُمْ لَـَٔاكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِـُٔونَ مِنْهَا ٱلْبُطُونَ ٦٦ ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًۭا مِّنْ حَمِيمٍۢ ٦٧ ثُمَّ إِنَّ مَرْجِعَهُمْ لَإِلَى ٱلْجَحِيمِ ٦٨

Apakah (makanan surga) itu hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sungguh, Kami menjadikannya (pohon zaqqum) sebagai azab bagi orang-orang zalim. Sungguh, itu adalah pohon yang keluar dari dasar neraka Jahim, mayangnya seperti kepala-kepala setan. Maka sungguh, mereka benar-benar memakan sebagian darinya (buah pohon itu), dan mereka memenuhi perutnya dengan buahnya (zaqqum). Kemudian sungguh, setelah makan (buah zaqqum) mereka mendapat minuman yang dicampur dengan air yang sangat panas. Kemudian pasti tempat kembali mereka ke neraka Jahim. (Q.S. as-Shaffat[37]:62-68)

إِنَّ شَجَرَتَ ٱلزَّقُّومِ ٤٣ طَعَامُ ٱلْأَثِيمِ ٤٤ كَٱلْمُهْلِ يَغْلِى فِى ٱلْبُطُونِ ٤٥ كَغَلْىِ ٱلْحَمِيمِ ٤٦

Sungguh pohon zaqqūm itu, makanan bagi orang yang banyak dosa. Seperti cairan tembaga yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas. (Q.S. ad-Dukhan[44]:43-46)

ثُمَّ إِنَّكُمْ أَيُّهَا ٱلضَّآلُّونَ ٱلْمُكَذِّبُونَ ٥١ لَـَٔاكِلُونَ مِن شَجَرٍۢ مِّن زَقُّومٍۢ ٥٢ فَمَالِـُٔونَ مِنْهَا ٱلْبُطُونَ ٥٣ فَشَـٰرِبُونَ عَلَيْهِ مِنَ ٱلْحَمِيمِ ٥٤ فَشَـٰرِبُونَ شُرْبَ ٱلْهِيمِ ٥٥ هَـٰذَا نُزُلُهُمْ يَوْمَ ٱلدِّينِ ٥٦

Kemudian sesungguhnya kamu, wahai orang-orang yang sesat lagi mendustakan! pasti akan memakan pohon zaqqum, Maka akan penuh perutmu dengannya. Setelah itu kamu akan memimun air yang sangat panas. Maka kamu minum seperti unta (yang sangat haus) minum. Itulah hidangan untuk mereka pada hari pembalasan.” (Q.S. al-Waqi’ah[55]:51-56)

Sejumlah hadis Nabi Muhammad saw yang menyinggung tentang zaqqūm bertujuan untuk memberikan peringatan kepada manusia mengenai azab yang akan mereka rasakan apabila menolak untuk mengikuti petunjuk Allah. Hadis-hadis tersebut menggambarkan betapa mengerikannya pohon zaqqūm dan buahnya, sehingga menjadi pengingat agar manusia senantiasa taat kepada Allah dan menjauhi perbuatan yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam neraka.

لَوْ أَنَّ قَطْرَةً مِنَ الزَّقُّومِ قُطِرَتْ فِي دَارِ الدُّنْيَا لأَفْسَدَتْ عَلَى أَهْلِ الدُّنْيَا مَعَايِشَهُمْ فَكَيْفَ بِمَنْ يَكُونُ طَعَامَهُ

Seandainya setetes dari Az-Zaqqum menetes ke dalam rumah dunia, niscaya akan merusak kehidupan penduduk dunia, maka bagaimana dengan orang yang menjadikannya sebagai makanannya? (Riwayat Aĥmad, at-Tirmiżi, dan Ibnu Mājah dari Ibnu ‘Abbās)

Ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis tentang zaqqūm mengingatkan umat Islam agar berpegang teguh pada manhaj Allah dengan memperbanyak amal saleh dan menjauhi maksiat sebelum ajal tiba. Jika tidak, maka buah zaqqūm akan menjadi makanan mereka setiap hari dan air mendidih akan menjadi minuman mereka di neraka. Gambaran siksa ini begitu dahsyat hingga sulit dibayangkan.

Di sisi lain, hadis tersebut juga memberi penghiburan bagi orang-orang yang istiqamah di jalan Allah. Mereka dijanjikan surga dengan kenikmatan abadi, meskipun kehidupan dunia yang mereka jalani penuh dengan penderitaan dan kehinaan.

Pernah beredar kabar bahwa pohon yang dianggap sebagai zaqqūm tumbuh di daerah Taif, Saudi Arabia. Namun, meski berita itu sempat tersebar luas, tampaknya hanya berupa dugaan. Dari foto yang beredar, pohon yang dikira sebagai zaqqūm tersebut sebenarnya termasuk jenis Acacia, dengan ciri khas duri-duri panjang pada batangnya.

Al-Qur’an juga menyebut adanya pohon lain yang tumbuh di neraka, yaitu Ďarī‘. Pohon ini digambarkan dalam firman Allah sebagai bagian dari azab yang disediakan bagi para penghuni neraka.

لَّيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِن ضَرِيعٍۢ ٦ لَّا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِى مِن جُوعٍۢ ٧

Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar. (Q.S. al-Ghasyiyah[88]:6-7)

Pohon Bersujud kepada Allah

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَسْجُدُ لَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَن فِى ٱلْأَرْضِ وَٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ وَٱلنُّجُومُ وَٱلْجِبَالُ وَٱلشَّجَرُ وَٱلدَّوَآبُّ وَكَثِيرٌۭ مِّنَ ٱلنَّاسِ ۖ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ ٱلْعَذَابُ ۗ وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكْرِمٍ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَآءُ ۩ ١٨

Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, (demikian) juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia (yang sujud). Tetapi banyak (juga manusia) yang pantas mendapatkan azab. Barangsiapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan memuliakannya. Sungguh, Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki. (QS. al-Hajj[22]:18)

وَٱلنَّجْمُ وَٱلشَّجَرُ يَسْجُدَانِ ٦

Bintang dan pepohonan, keduanya tunduk (kepada-Nya). (Q.S. ar-Rahman[55]:6) Ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebut pohon bersujud kepada Allah lebih menekankan makna simbolis daripada makna harfiah. Maksudnya, sujud pohon bukanlah dalam bentuk fisik sebagaimana manusia bersujud, melainkan dalam arti kepatuhan dan ketundukan pohon terhadap hukum-hukum Allah yang mengatur alam semesta.

Pohon sebagai Pena

وَلَوْ أَنَّمَا فِى ٱلْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَـٰمٌۭ وَٱلْبَحْرُ يَمُدُّهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦ سَبْعَةُ أَبْحُرٍۢ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَـٰتُ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌۭ ٢٧

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. (Q.S. Luqman[31]:27)

Dalam ayat ini, Allah menyingkapkan keagungan, kebesaran, dan kemuliaan-Nya, serta menyebut nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang luhur. Semua itu dinyatakan melalui kalimat-kalimat-Nya, yakni ilmu dan hikmah-Nya yang sempurna, yang tidak mungkin dapat diketahui atau dihitung secara menyeluruh oleh siapa pun. Menurut riwayat Ibnu ‘Abbās, ayat tersebut diturunkan berhubungan dengan suatu peristiwa tertentu.

قَالَتْ قُرَيْشٌ لِيَهُودَ اعْطُونَا شَيْئًا نَسْأَلُ عَنْهُ هَذَا الرَّجُلَ فَقَالَ سَلُوهُ عَنِ الرُّوحِ قَالَ فَسَأَلُوهُ عَنِ الرُّوحِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ ‏:‏ ‏(‏وَ يَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً ‏)‏ قَالُوا أُوتِينَا عِلْمًا كَثِيرًا التَّوْرَاةُ وَمَنْ أُوتِيَ التَّوْرَاةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا فَأُنْزِلَتْْ‏:‏ ‏(‏ قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ ‏)‏ إِلَى آخِرِ الآيَةِ .

“Orang-orang Quraish berkata kepada orang-orang Yahudi: ‘Berikan kami sesuatu yang dapat kami tanyakan kepada orang ini.’ Maka ia berkata: ‘Tanyakanlah kepadanya tentang Ruh.’ Maka mereka bertanya kepadanya tentang Ruh. Maka Allah Yang Maha Tinggi menurunkan: Mereka bertanya kepadamu tentang Ruh. Katakanlah: Ruh adalah salah satu perkara, pengetahuan tentangnya hanya ada pada Tuhanku. Dan tentang ilmu, kamu hanya diberi sedikit (17:85). Mereka menjawab: ‘Kami telah diberi ilmu yang banyak, kami telah diberi Taurat, dan siapa yang telah diberi Taurat, maka sesungguhnya ia telah diberi kekayaan ilmu.’ Maka diturunkanlah: Katakanlah: ‘Seandainya lautan menjadi tinta untuk kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya lautan akan habis (sebelum kalimat-kalimat Tuhanku selesai).’ (18:109)”

Ayat tersebut menegaskan kebesaran Allah yang tidak dapat dilihat secara langsung, tetapi dapat disaksikan melalui ciptaan-Nya. Allah menghendaki manusia untuk merenungkan tanda-tanda kebesaran-Nya, baik dari sisi kualitatif maupun kuantitatif. Dalam ayat itu disebutkan pohon dan laut sebagai perumpamaan: seandainya seluruh pohon di bumi dijadikan pena dan seluruh air laut dijadikan tinta, maka kalimat Allah—yang mencakup ilmu dan hikmah-Nya—tetap tidak akan pernah habis ditulis.

Hal ini menunjukkan betapa luasnya alam semesta. Untuk mengukur jarak antarbenda langit, manusia menggunakan satuan cahaya. Cahaya dalam satu detik menempuh 300.000 kilometer, sehingga jarak satu tahun cahaya adalah hasil perkalian panjang waktu dengan kecepatan cahaya. Dengan ukuran ini, jarak benda langit dapat digambarkan: bulan berjarak 1,3 detik cahaya, matahari 8 menit cahaya, Jupiter 40 menit cahaya, Saturnus 76 menit cahaya, Uranus 2,6 jam cahaya, dan Neptunus 4 jam cahaya. Gambaran ini menunjukkan betapa luas tata surya, padahal itu hanya bagian kecil dari alam semesta.

Matahari sendiri hanyalah bintang berukuran normal. Ada bintang-bintang raksasa yang jauh lebih besar, seperti Betelgeuse dengan diameter 32 menit cahaya, Razalgheti dengan diameter 2 jam cahaya, dan Epsilon Aurigae dengan diameter 4 jam cahaya. Bintang terdekat dari tata surya adalah Alpha Centauri, berjarak 4,3 tahun cahaya. Semua bintang ini hanyalah sebagian kecil dari jutaan bintang dalam galaksi Bimasakti.

Selain itu, terdapat galaksi lain seperti Andromeda dan berbagai galaksi berbentuk spiral, elipsoida, maupun tak beraturan. Galaksi-galaksi ini membentuk gugus besar yang disebut supergalaksi. Local Group, misalnya, terdiri dari 13 galaksi, namun masih tergolong kecil dibanding supergalaksi lain yang beranggotakan ribuan galaksi. Jarak antarsupergalaksi mencapai jutaan tahun cahaya, dan jumlah supergalaksi yang terdeteksi saat ini sekitar seratus juta, sementara masih banyak yang belum terjangkau oleh teleskop.

Dengan kenyataan ini, jelaslah bahwa pohon dan laut yang dijadikan perumpamaan hanyalah sedikit dibanding keluasan ilmu Allah. Alam semesta yang baru sebagian kecilnya dapat diungkap manusia hanyalah secuil dari kalimat Allah. Ayat ini menegaskan keabsolutan ilmu dan hikmah Allah yang tak terbatas.

Kesimpulan

Demikianlah salah satu dari I’jaz Al-Qur’an. Bagaimana mungkin, seorang yang dikata tidak bisa membaca dan menulis, pada waktu lebih dari 1400 tahun yang lalu, dapat menyampaikan sesuatu yang terkait dengan ilmu pengetahuan dan bisa dibuktikan secara ilmiah oleh ilmu pengetahuan di zaman sekarang? Bagaimana lagi kalau memang semua itu datangnya dari Allah, Tuhan yang menciptakan alam semesta dan segala isinya.

Ayat-ayat Al-Qur’an yang sudah terbukti secara ilmiah sudah banyak, tetapi juga ada peristiwa-peristiwa di dalam Al-Qur’an yang menunggu untuk dibuktikan oleh iljmu pengetahuan di zaman sekarang. Salah satunya Peristiwa Isra Mi’raj yang memang secara logika menentang hukum fisika. Namun, teori tentang Fisika Kuantum dan Teori Kecepatan Cahaya mulai berkembang. Hanya menanti waktu itu ketika Allah menyingkapkan segalanya.

Begitulah dalam Islam. Memahami segalanya berdasarkan dalil aqli dan dalil naqli. Kita diajarkan untuk mengenal Allah itu wajib ada, karena segala sesuatu yang berada di alam semesta ini pasti ada yang menciptakannya.