Nafis' Blog

#SocialMedia4Peace

Posted by mnafisalmukhdi1 on Saturday, 25 June 2022

Mine

Media sosial, menjadi sarana digital bagi manusia untuk berinteraksi satu sama lain, tanpa harus mengenal ruang dan waktu. Itu berarti, kita akan menemui beragam individu yang terjadi karena adanya perbedaan, baik jenis kelamin, suku, agama, ras, dan lain-lain.

Maka, kita harus sehat di media sosial, dengan sama sekali jangan menjadikan perbedaan itu sebagai alasan untuk menyebarkan apalagi memulai ujaran kebencian yang bahkan dibumbui informasi palsu.

Karena seharusnya, media sosial memudahkan kita untuk bersatu, dan kita tahu betul bahwa banyak yang cinta damai.

Let’s make #SocialMedia4Peace.


Halo. Saya Nafis. Di atas barusan adalah naskah yang saya bacakan, sebagai percobaan dalam partisipasi sebuah kompetisi yang diadakan turnbackhoax.id dan UNESCO.

Saya dengan kerendahan hati mengakui, kualitas video rekaman yang mungkin sudah ditonton di Instagram terlebih dahulu, tidak begitu bagus, tapi sampai di situ saja kemampuan dengan biaya terbatas.

Pada awalnya, saya berniat untuk menjadikan video singkat ini sebagaimana Weekend Update di Saturday Night Live, A Closer Look di Late Night with Seth Meyers, The Daily Show, atau Last Week Tonight with John Oliver. Tapi setelah selesai rekaman panjang keempat yang saya kira sudah menjadi titik sempurna, nyatanya belum dan memilih untuk memuaskan diri dengan yang ada.

Keputusan ini saya ambil dengan alasan keterbatasan lain sehingga saya merasa harus menyelesaikannya dengan segera.

Berbicara di hadapan kamera, sangat jarang saya lakukan bahkan hampir tidak pernah. Hal itu dapat disadari dengan seberapa kakunya penyampaian saya dalam intonasi suara, meskipun besarnya keinginan untuk menyampaikan pesan sederhana yang semoga bermanfaat.

Saya juga menyadari bahwa pandangan saya tidak cukup lurus ke arah kamera, dan saya akan memberikan pembenaran dengan dua alasan.

Alasan pertama, saya sebelumnya berniat untuk menghapal naskah yang telah dibuat terlebih dahulu dan entah kenapa, ketika memulai merekam dan berbicara di depan kamera. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk menuliskan naskah di secarik kertas dan meletakkannya di bawah kamera ponsel yang hanya disandarkan.

Alasan kedua, dengan pencahayaan yang terbatas, dan segala percobaan, saya menggunakan lampu kilat yang dapat dilihat pantulannya di mata. Tentu saja, itu menyebabkan rasa sakit ketika memandangnya terlalu lama.

Tapi di luar semua ini, pesan saya tetaplah tulus dari dalam hati. Serius, hanya karena orang lain berbeda, itu sama sekali bukan alasan untuk membenci mereka. Kecuali sebagaimana kita ketahui bersama, mereka yang terlebih dahulu menentang jenis kelamin, suku, agama, ras, dan lainnya.

Perundungan di dunia nyata saja sudah meresahkan, berlindung di balik awanama di dunia maya untuk merundung yang lain dengan ujaran kebencian. Keduanya tidak bisa dibenarkan.

Media sosial, juga sarana untuk mengenal orang lain. Maka jadikan #SocialMedia4Peace.